SMI

SMI

Selasa, 24 Oktober 2017

Spanduk Pas Tangan SYEKHERMANIA INDRAMAYU

Silahkan Diorder (Ready Stock)
Spanduk Pas Tangan  SYEKHERMANIA INDRAMAYU dan Berbagai Model lainnya.

Harga Rp 10.000
Ukuran 80 cm x 20 cm

SMS/WA 087717584310
FANPAGE FACEBOOK SYEKHERMANIA KABUPATEN INDRAMAYU

INDRAMAYU BERSHOLAWAT 2017

YAA RASULALLAH YAA HABIBALLAH...
KAMI RINDU PADAMU...

Hadiri dan Syi'arkanlah...!!!

"INDRAMAYU BERSHALAWAT"

Bersama:
- AL HABIB SYEKH BIN ABDUL QADIR ASSEGAF
- AL HABIB QURAISY BAHARUN

HABAIB, ULAMA, UMARO, TOKOH MASYARAKAT, MUSLIMIN WALMUSLIMAT PENGHARAP SYAFA'AT SAYYIDUNA MUHAMMAD SAW.

====================
JUM'AT MALAM SABTU
27 OKTOBER 2017
Pukul 19.30 WIB. (Ba'da Isya)
Di SPORT CENTER INDRAMAYU
====================

ACARA UNTUK UMUM PRIA DAN WANITA

Bagi Pengendara Bermotor Dihimbau Untuk Memakai Helm dan Tertib Berlalu Lintas.

Note:
RAIH KEBERKAHAN MAJELIS DENGAN AKHLAQUL KARIMAH DAN UNTUK KETERTIBAN ACARA, JAMA'AH DILARANG MENGIBARKAN BENDERA SELAIN BENDERA MAJELIS.

Info Majelis:
0877 2748 0223 (H. Oca)
0819 4722 1900 (Bunda Windu)

MARI RAIH KEMULIAAN DAN KEBERKAHAN DENGAN MENGHADIRI DAN MENSYIARKAN ACARA INI.

Share dan Bagikan!!!

Minggu, 04 Desember 2016

JADWAL SYEKHERMANIA DESEMBER 2016 M


JADWAL SYEKHERMANIA DESEMBER 2016 M.
MAJLIS SHOLAWAT "AHBAABUL MUSTHOFA".
BERSAMA: AL-HABIB SYEKH ASSEGAF (SOLO).
.
"MALAYSIA BERSHOLAWAT"
•Kamis - Sabtu | 01-03 Desember 2016.
.
"JAKARTA BERSHOLAWAT"
•Ahad - Selasa | 04 - 06 Desember 2016 | 19.30 WIB.
.
"SEMARANG BERSHOLAWAT"
•Jum'at | 09 Desember 2016 | 19.30 WIB.
.
"PP.ALMASYHURI GROBOGAN BERSHOLAWAT"
JADWAL KHUSUS (SPECIAL EVENT).
Maulid Nabi, Haul & Khotmil Qur'an.
•Senin | 12 Desember 2016 | 19.30 WIB.
.
"MALAYSIA BERSHOLAWAT"
•Selasa - Jum'at | 13-16 Desember 2016.
.
"SURABAYA BERSHOLAWAT"
•Sabtu | 17 Desember 2016 | 19.30 WIB.
.
"MALANG BERSHOLAWAT"
•Ahad | 18 Desember 2016 | 19.30 WIB.
.
"GRESIK BERSHOLAWAT"
•Senin | 19 Desember 2016 | 19.30 WIB.
.
"BANYUWANGI BERSHOLAWAT"
•Selasa | 20 Desember 2016 | 19.30 WIB.
.
"GRESIK BERSHOLAWAT"
•Rabu | 21 Desember 2016 | 19.30 WIB.
.
"SOLO BERSHOLAWAT"
HARLAH "AHBAABUL MUSTHOFA".
DI MASJID AGUNG SURAKARTA.
JADWAL KHUSUS (SPECIAL EVENT).
•Sabtu | 24 Desember 2016 | 19.30 WIB.
.
#INFORMASI SM:
Website : www.syekhermania.or.id
Fanspage FB : Syekhermania Pusat
Instagram : @syekhermania.community
Twitter : @syekhermania_cs

Rabu, 30 November 2016

Biografi KH. Abdul Wahab Chasbullah



KH Abdul Wahab Chasbullah, Apakah Anda Belum Mengenalnya? 
KH Abdul Wahab Chasbullah terkenal sebagai seorang ulama besar Indonesia. 
Selain itu KH. A. Wahab Hasbullah juga dikenal sebagai pionir kebebasan berpikir di kalangan Umat Islam Indonesia, khususnya di lingkungan NU. Beliau adalah seorang ulama moderat yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan berpendapat. Ini bisa dilihat dari upaya KH Abdul Wahab Hasbullah membangun kelompok diskusi “Tashwirul Afkar” (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1914.
Beliau juga seorang pelopor dalam membuka forum diskusi antar ulama, baik di lingkungan NU, Muhammadiyah dan organisasi lainnya. Ia belajar di Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Tawangsari Sepanjang, belajar pada Syaikhona R. Muhammad Kholil Bangkalan Madura, dan Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadratusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy‘ari. Disamping itu, Kyai Wahab juga merantau ke Makkah untuk berguru kepada Syaikh Mahfudz at-Tirmasi dan Syaikh Al-Yamani dengan hasil nilai istimewa.

Mula-mula kelompok “Tashwirul Afkar”mengadakan kegiatan dengan peserta yang terbatas. Tetapi berkat prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat yang diterapkan dan topik-topik yang dibicarakan mempunyai jangkauan kemasyarakatan yang luas, dalam waktu singkat kelompok ini menjadi sangat populer dan menarik perhatian di kalangan pemuda. Banyak tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu dalam forum itu untuk memperbincangkan dan mencari solusi dari permasalah pelik yang dianggap penting.
Tashwirul Afkar tidak hanya menghimpun kaum ulama pesantren. Ia juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi antar tokoh nasionalis sekaligus jembatan bagi komunikasi antara generasi muda dan generasi tua. Karena sifat rekrutmennya yang lebih mementingkan dinamika berpikir dan aksi nyata, maka jelas pula kelompok diskusi ini juga menjadi forum pengkaderan bagi kaum muda yang gandrung pada pemikiran keilmuan dan dunia politik.
Bersamaan dengan itu, dari rumahnya di Kertopaten, Surabaya, KH Abdul Wahab Hasbullah bersama KH. Mas Mansur menghimpun sejumlah ulama dalam organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang mendapatkan kedudukan badan hukumnya pada 1916. Dari organisasi inilah KH Abdul Wahab Hasbullah mendapat kepercayaan dan dukungan penuh dari ulama pesantren yang kurang-lebih sealiran dengannya.
Di antara ulama yang berhimpun itu adalah Kyai Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), Kyai Abdul Halim, (Leimunding Cirebon), Kyai AlwiAbdul Aziz, Kyai Ma’shum (Lasem) dan Kyai Cholil (Kasingan Rembang). Kebebasan berpikir dan berpendapat yang dipelopori Kyai Wahab Hasbullah dengan membentuk Tashwirul Afkar merupakan warisan terpenting beliau kepadakaum muslimin Indonesia. Kyai Wahab telah mencontohkan kepada generasi penerusnya bahwa prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat dapat dijalankan dalam nuansa keberagamaan yang kental. Prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat tidak akan mengurangi ruh spiritualisme umat beragama dan kadar keimanan seorang muslim. Dengan prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat, kaum muslim justru akan mampu memecahkan problem sosial kemasyarakatan dengan pisau analisis keislaman.
Pernah suatu ketika Kyai Wahab didatangi seseorang yang meminta fatwa tentang Qurban yang sebelumnya orang itu datang kepada Kyai Bisri Syansuri. “Bahwa menurut hukum Fiqih berqurban seekor sapi itu pahalanya hanya untuk tujuh orang saja”, terang Kyai Bisri. Akan tetapi Si Fulan yang bertanya tadi berharap anaknya yang masih kecil bisa terakomodir juga. Tentu saja jawaban Kyai Bisri tidak memuaskan baginya, karena anaknya yang kedelapan tidak bisa ikut menikmati pahala Qurban. Kemudian oleh Kyai Wahab dicarikan solusi yang logis bagi Si Fulan tadi. “Untuk anakmu yang kecil tadi belikan seekor kambing untuk dijadikan lompatan ke punggung sapi”, seru kyai Wahab.
Dari sekelumit cerita di atas tadi, kita mengetahui dengan jelas bahwa seni berdakwah di masyarakat itu memerlukan cakrawala pemikiran yang luas dan luwes. Kyai Wahab menggunakan kaidah Ushuliyyah “Maa laa yudraku kulluh, laa yutraku julluh”, Apa yang tidak bisa diharapkan semuanya janganlah ditinggal sama sekali. Di sinilah peranan Ushul Fiqih terasa sangat dominan dari Fiqih sendiri.

KH Abdul Wahab Chasbullah, Masa Kecil dan Pendidikannya
KH Abdul Wahab Hasbullah dilahirkan di Desa Tambakberas, Jombang, Jawa Timur padabulan Maret 1888. Silsilah KH Abdul Wahab Hasbullah bertemu dengan silsilah KHM. Hasyim Asy’ari pada datuk yang bernama Kiai Shihah.
Semenjak kanak-kanak, KH Abdul Wahab Hasbullah dikenal kawan-kawannya sebagai pemimpin dalam segala permainan. Beliau dididik ayahnya sendiri cara hidup,seorang santri. Diajaknya shalat berjamaah, dan sesekali dibangunkan malam hari untuk shalat tahajjud. Kemudian K.H. Hasbullah membimbingnya untuk menghafalkan Juz Ammah dan membaca Al Quran dengan tartildan fasih. Lalu beliau dididik mengenal kitab-kitab kuning, dari kitab yang paling kecil dan isinya diperlukan untuk amaliyah sehari-hari. Misalnya Kitab Safinatunnaja, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahab, Muhadzdzab dan AlMajmu’. Abdul Wahab juga belajar Ilmu Tauhid, Tafsir, Ulumul Quran, Hadits, danUlumul Hadits.
Kemauan yang keras untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tampak semenjak masa kecilnya yang tekun dan cerdas memahami berbagai ilmu yang dipelajarinya. Sampai berusia 13 tahun Abdul Wahab dalam asuhan langsung ayahnya. Setelah dianggap cukup bekal ilmunya, barulah Abdul Wahab merantau untuk menuntut ilmu. Maka beliau pergi ke satu pesantren ke pesantren lainnya. Kemudian Abdul Wahab belajar di pesantren Bangkalan, Madura yang diasuh oleh K.H. Kholil Waliyullah.
Beliau tidak puas hanya belajar dipesantren-pesantren tersebut, maka pada usia sekitar 27 tahun, pemuda Abdul Wahab pergi ke Makkah. Di tanah suci itu mukim selama 5 tahun, dan belajar pada Syekh Mahfudh At Turmasi dan Syekh Yamany. Setelah pulang ke tanah air, Abdul Wahab langsung diterima oleh umat Islam dan para ulama dengan penuh kebanggaan.

Langkah awal yang ditempuh KH Abdul Wahab Hasbullah, kelak sebagai Bapak Pendiri NU, itu merupakan usaha membangun semangat nasionalisme lewat jalur pendidikan. Nama madrasah sengaja dipilih ‘Nahdlatul Wathan’ yang berarti: ‘Bergeraknya/bangkitnya tanah air’, ditambah dengan gubahan syajr-syair yang penuh dengan pekik perjuangan, kecintaan terhadap tanah tumpah darah serta kebencian terhadap penjajah, adalah bukti dari cita-cita murni Kiai Abdul Wahab Hasbullah untuk membebaskan. belenggu kolonial Belanda.

Namun demikian, tidak kalah pentingnya memperhatikan langkah selanjutnya yang akan ditempuh Kiai Wahab,setelah berhasil mendirikan ‘Nahdlatul Wathan’. Ini penting karena dalam diri Kiai ‘Wahab agaknya tersimpan beberapa sifat yang jarang dipunyai oleh orang lain. Beliau adalah tipe manusia yang pandai bergaul dan gampang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tetapi, beliau juga seorang ulama yang paling tangguh mempertahankan dan membela pendiriannya. Beliau diketahui sebagai pembela ulama pesantren (ulama bermadzhab) dari serangan-serangan kaum modernis anti madzhab.

KH Abdul Wahab Chasbullah Mendirikan Kelompok Diskusi Pemikiran Progresif “Taswirul Afkar”
Bertolak dari sifat dan sikap Kiai Wahab itulah,maka mudah dipahami apabila kemudian beliau mengadakan pendekatan dengan ulama-ulama terkemuka seperti, K.H. A. Dachlan, pengasuh pondok Kebondalem Surabaya, untuk mendirikan madrasah ‘Taswirul Afkar’. Semula ‘Taswirul Afkar’ yang berarti ‘Pergolakan Pemikiran’ itu, merupakan kelompok diskusi yang membahas berbagai masalah keagamaan dan kemasyarakatan. Dan anggotanya juga terdiri atas para ulama dan ulama muda yang mempertahankan sistem bermadzhab. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya sekitar tahun 1919, kelompok diskusi ini ditingkatkan statusnya menjadi madrasah ‘Taswirul Afkar’ yang bertugas mendidik anak-anak lelaki setingkat sekolah dasar agar menguasai ilmu pengetahuan agama tingkat elementer.
Bertempat di Ampel Suci (dekat Masjid Ampel Surabaya), madrasah ‘Taswirul Afkar’ bergerak maju. Puluhan dan bahkan kemudian ratusan anak di Surabaya bagian utara itu menjadi murid ‘Taswirul Afkar’, yang pada saat itu (tahun-tahun permulaan) dipimpin K.H. A. Dachlan. Namun demikian, bukan berarti meniadakan kelompok diskusi tadi. Kegiatan diskusi tetap berjalan dan bahkan bertambah nampak hasilnya, berupa ‘Taswirul Afkar’. Dan madrasah ini hingga sekarang masih ada dan bertambah megah. Hanya tempatnya telah berpindah, tidak lagi di Ampel Suci, tetapi di Jalan Pegirian Surabaya.

Hingga di sini Kiai Wahab telah berada di tiga lingkungan: Syarikat Islam (SI) berhubungan dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Nahdlatul Wathan dengan K.H. Mas Mansur, dan Taswirul Afkar dengan K.H. A.Dachlan. Tiga lingkungan itu pun memiliki ciri-ciri yang berbeda-beda. Tjokroaminoto lebih condong pada kegiatan politik; K.H. Mas Mansur lebih dekat dengan kelompok anti madzhab sedangkan K.H. A. Dachlan tidak berbeda dengan Kiai Wahab, yakni ulama yang mempertahankan sistem madzhab.

Dalam hubungannya dengan gerakan pembaruan itu, agaknya Kiai Wahab sering kali tidak dapat menghindari serangan-serangan mereka baik yang ada di SI maupun di K.H. Mas Mansur sendiri. Meski tujuan utamanya membangun nasionalisme, serangan-serangan kaum modernis seringkali dilancarkan hingga Kiai Wahab perlu melayaninya. Di sinilah mulai tampak perbedaan pendapat antara Kiai Wahab dengan K.H. Mas Mansur.

Peristiwa ini tampaknya sudah terbayang dalam pikiran Kiai Wahab, sehingga tidak perlu mempengaruhi semangat perjuangannya. Bahkan beliau bertekad untuk mengembangkan Nahdlatul Wathan ke berbagai daerah. Dengan K.H. Mas Alwi, kepala sekolah yang baru, Kiai Wahab membentuk cabang-cabang baru: Akhul Wathan di Semarang, Far’ul Wathan di Gresik, Hidayatul Wathan di Jombang, Far’ul Wathan di Malang, Ahlul Wathan di Wonokromo, Khitabul Wathan diPacarkeling, dan Hidayatul Wathan di Jagalan.

Apa pun nama madrasah di beberapa cabang itu pastilah dibelakangnya tercantum nama ‘Wathan’ yang berarti ‘tanah air’. Ini berarti tujuan utamanya adalah membangun semangat cinta tanah air. Dan syair ‘Nahdlatul Wathan’ berkumandang di berbagai daerah dengan variasi cara menyanyikannya sendiri-sendiri. Misalnya di Tebuireng, hingga tahun 1940-an syair tersebut tetap dinyanyikan para santri setiap kali akan dimulainya kegiatan belajar disekolah. Dan setiap hendak menyanyikan syair tersebut, para murid santri diminta berdiri tegak sebagaimana layaknya menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’.

Seperti telah disinggung, bahwa selain Kiai Wahab harus memperhatikan Nahdlatul Wathan dan juga keterlibatannya di SI, beliau juga tidak dapat membiarkan serangan-serangan kaum modernis yang dilancarkan kepada ulama bermadzhab. Lagi pula, serangan-serangan itu tidak mungkin dapat dihadapi sendirian. Sebab itu, pada tahun 1924, Kiai Wahab membuka kursus ‘masaildiniyyah’ (khusus masalah-masalah keagamaan) guna menambah pengetahuan bagi ulama-ulama muda yang mempertahankan madzhab.
Kegiatan kursus ini dipusatkan di madrasah ‘Nahdlatul Wathan’ tiga kali dalam seminggu. Dan pengikutnya ternyata tidak hanya terbatas dari Jawa Timur saja, melainkan juga ada yang dari JawaTengah, Jawa Barat, dan beberapa lagi dari Madura. Jumlah peserta kursus sebanyak 65 orang. Karena peserta begitu banyak, maka Kiai Wahab meminta teman-temannya untuk membantu. Di antara teman-temannya yang bersedia mendampingi ialah KH. Bishri Syansuri (Jombang), KH. Abdul Halim Leuwimunding (Cirebon), KH. Mas Alwi Abdul Aziz dan KH. Ridlwan Abdullah keduanya dari Surabaya, K.H. Maksum dan K.H. Chalil keduanya dari Lasem, Rembang. Sedangkan dari kelompok pemuda yang setia mendampingi Kiai Wahab ialah: Abdullah Ubaid, Kawatan Surabaya, Thahir Bakri, dan Abdul Hakim, Petukangan Surabaya, serta Hasan dan Nawawi, keduanya dari Surabaya.
Dengan demikian, Kiai Wahab telah juga membangun pertahanan cukup ampuh bagi menolak serangan-serangan kaum modernis. Enam puluh lima ulama yang dikursus, agaknya dipersiapkan betul untuk menjadi juru bicara tangguh dalam menghadapi kelompok pembaru, sehingga dalam perkembangan berikutnya, ketika berkobar perdebatan seputar masalah ‘khilafiyah’ di beberapa daerah, tidak lagi perlu meminta kedatangan Kiai Wahab, tapi cukup dihadapi ulama-ulama muda peserta kursus tersebut.

Pada saat pemimpin-pemimpin Islam mendapat undangan dari Raja Hijaz lalu membentuk Komite Khilafat,  mengusulkan agar delegasi ke Makkah menuntut dilindunginya madzahibul arba’ ah di Makkah – Madinah. KH Abdul Wahab Hasbullah Dan setelah mengetahui usulnya kurang diperhatikan oleh tokoh-tokoh SI dan Muhammadiyah, lalu KH. Abd.Wahab atas izin KH.Hasyim Asy’ ari membentuk Komite Hijaz untuk mengirim delegasi sendiri ke Makkah – Madinah. Dan Komite Hijaz inilah yang kemudian melahirkan JAM’IYAH NAHDLATUL ULAMA, sehingga kehadiran NU tidak dapat dilepaskan dari perjuangan KH Abdul Wahab Hasbullah.

Demikianlah selintas pintas riwayat KH.Abdul Wahab Hasbullah dalam menegakkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia dalam rangka mengusir penjajah di tanah tercinta Indonesia. Di samping itu beliau seorang tokoh besar Islam terutama dalam mempertahankan kebenaran madzhab dari serangan kaum yang menyebut dirinya modernis Islam.
------------- 

قال رسول الله صلىالله عليه وسلم : مَنْ وَرَّخَ مُسْلِمًا فَكَأَ نَّمَااَحْيَاهُ وَمَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَ نَّمَا زَارَنِى وَمَنْ زَارَنِى بَعْدَوَفَاتِى وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِى. روه ابو داود وترمذى

“Barang siapa membuat tarekh (Biografi) seorang muslim,maka sama dengan menghidupkannya. Dan barang siapa ziarah kepada seorang Alim,maka sama dengan ziarah kepadaku (Nabi SAW). Dan barang siapa berziarahkepadaku setelah aku wafat, maka wajib baginya mendapat syafatku di HariQiyamat. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).


Selasa, 29 November 2016

Syiir Cinta Tanah Air “Hubbul Wathon


Oleh: KH. Abdul Wahab Chasbullah

Ya ahlal wathon ya ahlalwathon
Hubbul wathon minal iman

Wahai anak bangsa wahai anak bangsa
Cinta tanah air itu bagian dari iman

Hubbul wathon ya ahlal wathon
Wa la takun ahlal hirman

Cinta tanah air wahai anak bangsa
Dan janganlah kalian menjadi orang yang tertinggal

Syi'ir Polisi



Sholli wa sallim daa-iman 'alahmadaa.
Sholli wa sallim daa-iman 'alahmadaa.
Wal ali wal Ash-haabi man qod wahhada. 
Wal ali wal Ash-haabi man qod wahhada.
=========================

Kitho numpak motor, kudu manut aturan
Ojo mlaku ngebut, ojo awur awuran
Lampu abang mandek , kuning persiapan  
Lampu ijo mlaku, ojo balap balapan

Numpak motor kudu, sopan lan serasi....
Ojo kakean polah, ojo kakean aksi
Ojo boncengan telu, ojo ngaksi ngaksi....
Kudu kelingan kredit, durung mbok lunasi

Numpak motor kudu , eling lan waspodo
Kudu nganggo helm, surat surat di gowo
Ojo nyepelekke ...., ojo nggawe howo ....
Kadang kadang wae, pentil yo di perikso.

Siro di cegat polisi, sebab tanpo helm .....
Ojo malah mlayu, mandhek kanti kalem
Siro rumongso keliru, Polisi mesam mesem
Ojo bayar duit, polisi ora gelem ........

Ayo poro konco, gawe bungah Polisi......  
Pancen abot tenan tugas bapak polisi
Ngatur dalan aman, esok awan bengi ....  
Gaji paling sithik, kerep di pisuhi .....

Syi'ir Polisi ini, kadang kala di bawakan Beliau Habib Syekh AA dalam acara tertentu.

Bila Engkau

Bila engkau baik hati... 
Bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih.
Tapi bagaimanapun..., berbaik hatilah.

Bila engkau jujur dan terbuka...
Mungkin saja orang lain akan menipumu.
Tapi bagaimanapun..., jujur dan terbukalah.

Bila engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan... 
Mungkin saja orang lain jadi iri.
Tapi bagaimanapun..., berbahagialah.

Bila engkau sukses... 
Engkau akan mendapat beberapa teman palsu dan sahabat sejati.
Tapi bagaimanapun..., jadilah Sukses.

Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun, 
Mungkin saja dihancurkan orang lain hanya dalam semalam.
Tapi bagaimanapun..., bangunlah.

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, 
Mungkin saja besok sudah dilupakan orang.
Tapi bagaimanapun..., berbuat baiklah.

Bagaimanapun..., berikan yang terbaik dari dirimu.

Pada akhirnya, engkau akan tahu...
Bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu.
Ini bukan urusan antara engkau dan mereka.

Belajarlah dari bunga liar di antara semak belukar,
Yang tak punya alasan untuk tersenyum.
Namun... mampu membuat kita kagum dengan keindahannya.

** YAA ROBBI SHOLLI 'ALAA MUHAMMAD **
* WAFTAH MINAL KHOIRI KULLA MUGHLAQ *

habib syech
Habib Syech saat acara Cirebon Bersholawat 2016