KH Abdul Wahab Chasbullah, Apakah Anda
Belum Mengenalnya?
KH Abdul Wahab Chasbullah terkenal
sebagai seorang ulama besar Indonesia.
Selain itu KH. A. Wahab Hasbullah juga
dikenal sebagai pionir kebebasan berpikir di kalangan Umat Islam Indonesia,
khususnya di lingkungan NU. Beliau adalah seorang ulama moderat yang menekankan
pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan
berpendapat. Ini bisa dilihat dari upaya KH Abdul Wahab Hasbullah
membangun kelompok diskusi “Tashwirul Afkar” (Pergolakan Pemikiran) di
Surabaya pada 1914.
Beliau juga seorang pelopor dalam
membuka forum diskusi antar ulama, baik di lingkungan NU, Muhammadiyah dan
organisasi lainnya. Ia belajar di Pesantren Langitan Tuban, Pesantren
Mojosari Nganjuk, Pesantren Tawangsari Sepanjang, belajar pada Syaikhona R.
Muhammad Kholil Bangkalan Madura, dan Pesantren Tebuireng Jombang di bawah
asuhan Hadratusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy‘ari. Disamping itu, Kyai Wahab
juga merantau ke Makkah untuk berguru kepada Syaikh Mahfudz at-Tirmasi dan
Syaikh Al-Yamani dengan hasil nilai istimewa.
Mula-mula kelompok “Tashwirul
Afkar”mengadakan kegiatan dengan peserta yang terbatas. Tetapi berkat prinsip
kebebasan berpikir dan berpendapat yang diterapkan dan topik-topik yang
dibicarakan mempunyai jangkauan kemasyarakatan yang luas, dalam waktu singkat
kelompok ini menjadi sangat populer dan menarik perhatian di kalangan
pemuda. Banyak tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu dalam forum itu
untuk memperbincangkan dan mencari solusi dari permasalah pelik yang
dianggap penting.
Tashwirul Afkar tidak hanya menghimpun
kaum ulama pesantren. Ia juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling
tukar informasi antar tokoh nasionalis sekaligus jembatan bagi komunikasi
antara generasi muda dan generasi tua. Karena sifat rekrutmennya yang lebih
mementingkan dinamika berpikir dan aksi nyata, maka jelas pula kelompok
diskusi ini juga menjadi forum pengkaderan bagi kaum muda yang gandrung pada
pemikiran keilmuan dan dunia politik.
Bersamaan dengan itu, dari rumahnya di
Kertopaten, Surabaya, KH Abdul Wahab Hasbullah bersama KH. Mas Mansur
menghimpun sejumlah ulama dalam organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah
Air) yang mendapatkan kedudukan badan hukumnya pada 1916. Dari
organisasi inilah KH Abdul Wahab Hasbullah mendapat kepercayaan dan dukungan
penuh dari ulama pesantren yang kurang-lebih sealiran dengannya.
Di antara ulama yang berhimpun itu
adalah Kyai Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), Kyai Abdul Halim,
(Leimunding Cirebon), Kyai AlwiAbdul Aziz, Kyai Ma’shum (Lasem) dan Kyai Cholil
(Kasingan Rembang). Kebebasan berpikir dan berpendapat yang dipelopori
Kyai Wahab Hasbullah dengan membentuk Tashwirul Afkar merupakan
warisan terpenting beliau kepadakaum muslimin Indonesia. Kyai Wahab telah
mencontohkan kepada generasi penerusnya bahwa prinsip kebebasan berpikir dan
berpendapat dapat dijalankan dalam nuansa keberagamaan yang
kental. Prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat tidak akan mengurangi ruh
spiritualisme umat beragama dan kadar keimanan seorang muslim. Dengan
prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat, kaum muslim justru akan mampu
memecahkan problem sosial kemasyarakatan dengan pisau analisis keislaman.
Pernah suatu ketika Kyai Wahab didatangi
seseorang yang meminta fatwa tentang Qurban yang sebelumnya orang itu
datang kepada Kyai Bisri Syansuri. “Bahwa menurut hukum Fiqih berqurban seekor
sapi itu pahalanya hanya untuk tujuh orang saja”, terang Kyai Bisri. Akan
tetapi Si Fulan yang bertanya tadi berharap anaknya yang masih kecil bisa
terakomodir juga. Tentu saja jawaban Kyai Bisri tidak memuaskan baginya,
karena anaknya yang kedelapan tidak bisa ikut menikmati pahala Qurban. Kemudian
oleh Kyai Wahab dicarikan solusi yang logis bagi Si Fulan tadi. “Untuk anakmu
yang kecil tadi belikan seekor kambing untuk dijadikan lompatan ke punggung
sapi”, seru kyai Wahab.
Dari sekelumit cerita di atas tadi, kita
mengetahui dengan jelas bahwa seni berdakwah di masyarakat itu memerlukan
cakrawala pemikiran yang luas dan luwes. Kyai Wahab
menggunakan kaidah Ushuliyyah “Maa laa yudraku kulluh, laa yutraku
julluh”, Apa yang tidak bisa diharapkan semuanya janganlah ditinggal sama
sekali. Di sinilah peranan Ushul Fiqih terasa sangat dominan dari Fiqih
sendiri.
KH Abdul Wahab Chasbullah, Masa Kecil
dan Pendidikannya
KH Abdul Wahab Hasbullah dilahirkan
di Desa Tambakberas, Jombang, Jawa Timur padabulan Maret 1888. Silsilah KH
Abdul Wahab Hasbullah bertemu dengan silsilah KHM. Hasyim Asy’ari pada
datuk yang bernama Kiai Shihah.
Semenjak kanak-kanak, KH Abdul
Wahab Hasbullah dikenal kawan-kawannya sebagai pemimpin dalam segala
permainan. Beliau dididik ayahnya sendiri cara hidup,seorang santri. Diajaknya
shalat berjamaah, dan sesekali dibangunkan malam hari untuk shalat tahajjud.
Kemudian K.H. Hasbullah membimbingnya untuk menghafalkan Juz Ammah dan membaca
Al Quran dengan tartildan fasih. Lalu beliau dididik mengenal kitab-kitab
kuning, dari kitab yang paling kecil dan isinya diperlukan untuk amaliyah
sehari-hari. Misalnya Kitab Safinatunnaja, Fathul Qorib, Fathul Mu’in,
Fathul Wahab, Muhadzdzab dan AlMajmu’. Abdul Wahab juga belajar Ilmu Tauhid,
Tafsir, Ulumul Quran, Hadits, danUlumul Hadits.
Kemauan yang keras untuk
menimba ilmu sebanyak-banyaknya tampak semenjak masa kecilnya yang tekun dan
cerdas memahami berbagai ilmu yang dipelajarinya. Sampai berusia 13 tahun
Abdul Wahab dalam asuhan langsung ayahnya. Setelah dianggap cukup bekal
ilmunya, barulah Abdul Wahab merantau untuk menuntut ilmu. Maka beliau pergi ke
satu pesantren ke pesantren lainnya. Kemudian Abdul Wahab belajar di pesantren
Bangkalan, Madura yang diasuh oleh K.H. Kholil Waliyullah.
Beliau tidak puas hanya belajar
dipesantren-pesantren tersebut, maka pada usia sekitar 27 tahun, pemuda Abdul
Wahab pergi ke Makkah. Di tanah suci itu mukim selama 5 tahun, dan belajar
pada Syekh Mahfudh At Turmasi dan Syekh Yamany. Setelah pulang ke tanah air,
Abdul Wahab langsung diterima oleh umat Islam dan para ulama dengan penuh
kebanggaan.
Langkah awal yang ditempuh KH Abdul
Wahab Hasbullah, kelak sebagai Bapak Pendiri NU, itu merupakan
usaha membangun semangat nasionalisme lewat jalur pendidikan. Nama
madrasah sengaja dipilih ‘Nahdlatul Wathan’ yang berarti:
‘Bergeraknya/bangkitnya tanah air’, ditambah dengan gubahan syajr-syair yang
penuh dengan pekik perjuangan, kecintaan terhadap tanah tumpah darah serta
kebencian terhadap penjajah, adalah bukti dari cita-cita murni Kiai Abdul Wahab
Hasbullah untuk membebaskan. belenggu kolonial Belanda.
Namun demikian, tidak kalah pentingnya
memperhatikan langkah selanjutnya yang akan ditempuh Kiai Wahab,setelah
berhasil mendirikan ‘Nahdlatul Wathan’. Ini penting karena dalam diri Kiai
‘Wahab agaknya tersimpan beberapa sifat yang jarang dipunyai oleh orang lain. Beliau
adalah tipe manusia yang pandai bergaul dan gampang menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Tetapi, beliau juga seorang ulama yang paling tangguh
mempertahankan dan membela pendiriannya. Beliau diketahui sebagai pembela
ulama pesantren (ulama bermadzhab) dari serangan-serangan kaum modernis anti
madzhab.
KH
Abdul Wahab Chasbullah Mendirikan Kelompok Diskusi Pemikiran Progresif
“Taswirul Afkar”
Bertolak dari sifat dan sikap Kiai Wahab
itulah,maka mudah dipahami apabila kemudian beliau mengadakan pendekatan dengan ulama-ulama
terkemuka seperti, K.H. A. Dachlan, pengasuh pondok Kebondalem Surabaya, untuk
mendirikan madrasah ‘Taswirul Afkar’. Semula ‘Taswirul Afkar’ yang
berarti ‘Pergolakan Pemikiran’ itu, merupakan kelompok diskusi yang membahas
berbagai masalah keagamaan dan kemasyarakatan. Dan anggotanya juga terdiri atas
para ulama dan ulama muda yang mempertahankan sistem bermadzhab. Tetapi dalam
perkembangan selanjutnya sekitar tahun 1919, kelompok diskusi ini
ditingkatkan statusnya menjadi madrasah ‘Taswirul Afkar’ yang bertugas mendidik
anak-anak lelaki setingkat sekolah dasar agar menguasai ilmu pengetahuan agama
tingkat elementer.
Bertempat di Ampel Suci (dekat Masjid
Ampel Surabaya), madrasah ‘Taswirul Afkar’ bergerak maju. Puluhan dan
bahkan kemudian ratusan anak di Surabaya bagian utara itu menjadi murid
‘Taswirul Afkar’, yang pada saat itu (tahun-tahun permulaan) dipimpin K.H. A.
Dachlan. Namun demikian, bukan berarti meniadakan kelompok diskusi tadi.
Kegiatan diskusi tetap berjalan dan bahkan bertambah nampak hasilnya,
berupa ‘Taswirul Afkar’. Dan madrasah ini hingga sekarang masih ada dan
bertambah megah. Hanya tempatnya telah berpindah, tidak lagi di Ampel Suci,
tetapi di Jalan Pegirian Surabaya.
Hingga di sini Kiai Wahab telah berada
di tiga lingkungan: Syarikat Islam (SI) berhubungan dengan H.O.S.
Tjokroaminoto, Nahdlatul Wathan dengan K.H. Mas Mansur, dan Taswirul Afkar
dengan K.H. A.Dachlan. Tiga lingkungan itu pun memiliki ciri-ciri yang
berbeda-beda. Tjokroaminoto lebih condong pada kegiatan politik; K.H. Mas
Mansur lebih dekat dengan kelompok anti madzhab sedangkan K.H. A. Dachlan
tidak berbeda dengan Kiai Wahab, yakni ulama yang mempertahankan sistem
madzhab.
Dalam hubungannya dengan gerakan
pembaruan itu, agaknya Kiai Wahab sering kali tidak dapat menghindari
serangan-serangan mereka baik yang ada di SI maupun di K.H. Mas
Mansur sendiri. Meski tujuan utamanya membangun nasionalisme,
serangan-serangan kaum modernis seringkali dilancarkan hingga Kiai Wahab perlu
melayaninya. Di sinilah mulai tampak perbedaan pendapat antara Kiai Wahab
dengan K.H. Mas Mansur.
Peristiwa ini tampaknya sudah terbayang
dalam pikiran Kiai Wahab, sehingga tidak perlu mempengaruhi semangat
perjuangannya. Bahkan beliau bertekad untuk mengembangkan Nahdlatul
Wathan ke berbagai daerah. Dengan K.H. Mas Alwi, kepala sekolah yang baru,
Kiai Wahab membentuk cabang-cabang baru: Akhul Wathan di Semarang, Far’ul
Wathan di Gresik, Hidayatul Wathan di Jombang, Far’ul Wathan di Malang, Ahlul
Wathan di Wonokromo, Khitabul Wathan diPacarkeling, dan Hidayatul Wathan di
Jagalan.
Apa pun nama madrasah di beberapa cabang
itu pastilah dibelakangnya tercantum nama ‘Wathan’ yang berarti ‘tanah
air’. Ini berarti tujuan utamanya adalah membangun semangat cinta tanah
air. Dan syair ‘Nahdlatul Wathan’ berkumandang di berbagai daerah dengan
variasi cara menyanyikannya sendiri-sendiri. Misalnya di Tebuireng, hingga
tahun 1940-an syair tersebut tetap dinyanyikan para santri setiap kali akan
dimulainya kegiatan belajar disekolah. Dan setiap hendak menyanyikan syair
tersebut, para murid santri diminta berdiri tegak sebagaimana layaknya
menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’.
Seperti telah disinggung, bahwa
selain Kiai Wahab harus memperhatikan Nahdlatul Wathan dan juga
keterlibatannya di SI, beliau juga tidak dapat membiarkan
serangan-serangan kaum modernis yang dilancarkan kepada ulama bermadzhab. Lagi
pula, serangan-serangan itu tidak mungkin dapat dihadapi sendirian. Sebab itu,
pada tahun 1924, Kiai Wahab membuka kursus ‘masaildiniyyah’ (khusus
masalah-masalah keagamaan) guna menambah pengetahuan bagi ulama-ulama muda yang
mempertahankan madzhab.
Kegiatan kursus ini dipusatkan di
madrasah ‘Nahdlatul Wathan’ tiga kali dalam seminggu. Dan pengikutnya
ternyata tidak hanya terbatas dari Jawa Timur saja, melainkan juga ada yang
dari JawaTengah, Jawa Barat, dan beberapa lagi dari Madura. Jumlah peserta
kursus sebanyak 65 orang. Karena peserta begitu banyak, maka Kiai Wahab meminta
teman-temannya untuk membantu. Di antara teman-temannya yang bersedia
mendampingi ialah KH. Bishri Syansuri (Jombang), KH. Abdul Halim Leuwimunding
(Cirebon), KH. Mas Alwi Abdul Aziz dan KH. Ridlwan Abdullah keduanya dari
Surabaya, K.H. Maksum dan K.H. Chalil keduanya dari Lasem, Rembang. Sedangkan
dari kelompok pemuda yang setia mendampingi Kiai Wahab ialah: Abdullah Ubaid,
Kawatan Surabaya, Thahir Bakri, dan Abdul Hakim, Petukangan Surabaya, serta
Hasan dan Nawawi, keduanya dari Surabaya.
Dengan demikian, Kiai Wahab telah
juga membangun pertahanan cukup ampuh bagi menolak serangan-serangan kaum
modernis. Enam puluh lima ulama yang dikursus, agaknya dipersiapkan betul
untuk menjadi juru bicara tangguh dalam menghadapi kelompok pembaru, sehingga
dalam perkembangan berikutnya, ketika berkobar perdebatan seputar masalah
‘khilafiyah’ di beberapa daerah, tidak lagi perlu meminta kedatangan Kiai
Wahab, tapi cukup dihadapi ulama-ulama muda peserta kursus tersebut.
Pada saat pemimpin-pemimpin Islam
mendapat undangan dari Raja Hijaz lalu membentuk Komite
Khilafat, mengusulkan agar delegasi ke Makkah menuntut dilindunginya
madzahibul arba’ ah di Makkah – Madinah. KH Abdul Wahab Hasbullah Dan
setelah mengetahui usulnya kurang diperhatikan oleh tokoh-tokoh SI dan
Muhammadiyah, lalu KH. Abd.Wahab atas izin KH.Hasyim Asy’ ari membentuk
Komite Hijaz untuk mengirim delegasi sendiri ke Makkah –
Madinah. Dan Komite Hijaz inilah yang kemudian melahirkan JAM’IYAH
NAHDLATUL ULAMA, sehingga kehadiran NU tidak dapat dilepaskan dari perjuangan KH
Abdul Wahab Hasbullah.
Demikianlah selintas pintas riwayat
KH.Abdul Wahab Hasbullah dalam menegakkan semangat nasionalisme bangsa
Indonesia dalam rangka mengusir penjajah di tanah tercinta Indonesia. Di
samping itu beliau seorang tokoh besar Islam terutama dalam mempertahankan
kebenaran madzhab dari serangan kaum yang menyebut dirinya modernis Islam.
-------------
قال رسول الله صلىالله عليه وسلم : مَنْ
وَرَّخَ مُسْلِمًا فَكَأَ نَّمَااَحْيَاهُ وَمَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَ
نَّمَا زَارَنِى وَمَنْ زَارَنِى بَعْدَوَفَاتِى وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِى. روه
ابو داود وترمذى
“Barang
siapa membuat tarekh (Biografi) seorang muslim,maka sama dengan
menghidupkannya. Dan barang siapa ziarah kepada seorang Alim,maka sama dengan
ziarah kepadaku (Nabi SAW). Dan barang siapa berziarahkepadaku setelah aku
wafat, maka wajib baginya mendapat syafatku di HariQiyamat. (HR. Abu Dawud dan
Tirmidzi).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar